MOHAMMAD NATSIR (Bag-2)


SEKULERIS VS ISLAMIS
Suatu ketika, sekitar 1940-an pernah terjadi polemik antara Soekarno dan Natsir. Soekarno berpendirian, agama mesti dipisahkan dari Negara. Pernyataan Soekarno ini di ilhami oleh pandangan Syeikh Ali Abdur Raziq, ulama dari Al-Azhar Kairo, bahwa dalam Al-Quran dan Sunnah maupun ijma ulama ; tidak ada keharusan adanya bersatunya Negara dengan agama, dan Soekarno pun mencontohkan Turki, dimana Mustafa Kemal Attartuk memisahkan Negara dari Agama. Dan Turki menjadi negara yang maju.
Sedang Natsir tetap pada prinsipnya, bahwa agama dalam hal ini Islam, tak bisa dipisahkan dari Negara. Urusan Negara adalah bagian dari menjalankan perintah Allah. Baginya, Negara bukanlah segala-galanya. Ia hanya merupakan alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Bagi kaum muslimin, Negara bukanlah suatu badan yang tersendiri yang menjadi tujuan. Urusan kenegaraan merupakan satu bagian “intergreenddel” dari Islam. Yang menjadi tujuan pokok adalah : kesempurnaan berlakunya undang-undang Ilahi, baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri ataupun sebagai anggota masyarakat.
Pandangan Natsir sangat Islamis, sedangkan Soekarno berpandangan sekuler. Menuru Natsir, sekulerisme adalah cara hidup yang mengandung paham, tujuan dan sikap hidup hanya pada keduniaan semata. Seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku sehari-hari, terlebih dalam hal doa dan ibadah ritual.
Oleh karena itu, pada kesempatan lain, Natsir pernah mengatakan, bahwa ada sesuatu yang diperlukan bagi calon pemimpin masyarakat, apalagi calon pemimpin negara, yaitu ilmu, pengalaman, keterampilan, dan memiliki akhlak yang baik, akhlaqul karimah.
MEMBANGUN MEDAN DAKWAH
Di Era Orde Baru, Natsir menyadari betul ke khawatiran Soeharto akan bangkitnya kembali kekuatan Islam yang dipelopori oleh Masyumi, partai Islam yang meski sudah membubarkan diri pada 1960, masih cukup disegani.
Maka, pada tahun 1967, Natsir dan kawan-kawan, mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sebagai medan juangnya. Lewat DDII, Natsir banyak mendidik calon-calon juru dakwah dan mengirimkannya ke seluruh pelosok Indonesia. Ratusam Masjid dan ribuan ustadz telah ia kader. Semangatnya hanya satu, api Islam tak boleh padam. Dimanapun dan kapanpun, seorang muslim, keberadaannya harus bermanfaat bagi lingkungannya, sebagaimana hadist Nabi : Khoirunnaasi anfa’uhum linnaas. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
Beliau wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta. Itulah Mohammad Natsir yang senantiasa berjuang dan berdakwah hingga akhir hayat.

>>><<<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar